This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

MELEPAS BEBAN



Ya Tuhanku, Allahu Rabi
hambamu ini telah banyak lalai
mengingat Kau tapi terkadang aku santai
menikmati dunia yang tiada abadi

dalam kesunyianku malam ini
terkenang dosa yang rantai berantai
menambah pilu kehidupan diri
terlena dalam buaian mimpi

Pulang



PULANG ........
Anakku, engkau sudah pulang
ataukah kau lari dari medan juang
bagai seorang pengecut lagi bertualang
nasibmu yang malang datang melintang

Senin, 16 Desember 2013

Doyan Puisi

DOYAN PUISI

sepertinya aku ini
doyan akan puisi
karya sastra seni
jaman sekarang begini
sudah dianggap basi
di era globalisasi

kreasiku ala Chairil Anwar
tidak sama nada terlontar
gaya cukup menghantar
membuat pembaca tergetar
menjiwai dengan sadar
terharu, matanya berbinar

puisi istimewa karena sajak
bagai kata orang bijak
dinikmati orang bisu atau pekak
menghalau rasa gejolak
penuh makna kata menghentak
semangat seni lalu terkuak

generasi jaman sekarang
jiwa seni mereka kurang
baca tulis seni tidak meransang
terlena di televisi lebih senang
menikmati sinetron sembarang
pagi, malam ataupun siang
tiada hari tanpa sinetron, sayang

aku lelah membuat puisi
bukan karena masalah seni
siaku berkarat sepi
terkadang aku sendiri
kuingin lagi berkreasi
menuliskan tentang imajinasi
tapi tidak fit lagi

selamat tinggal, puisiku
aku istirahat dulu
siapa yang tahu
muncul kreasi baru
belum padam lilinku
tetap kurasakan getaranmu
dalam lubuk hatiku
kita akan bertemu
sebelum ajal menjemputku

 



Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 10 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulawesi Selatan

Kenangan dari Kaltim

KENANGAN DARI KALTIM

menjelang sore waktu Kalimantan
pesawat tiba di kota Balikpapan
sekitar sejam dalam perjalanan
datang memenuhi undangan
keluarga mengadakan pernikahan
yang berlangsung dua hari kemudian

ini adalah kunjunganku yang pertama
aku belum pernah ke sana sebelumnya
kami dijemput keluarga di bandara
kemudian diantar ke rumah saudara
yang telah lama bermukim di sana
kami disambut dengan rasa gembira

Balikpapan kota berbukit
dataran hanya sedikit
tapi kota tidak sempit
penduduknya bergerak dengan gesit
disaat matahari telah terbit
demi mencari namanya duit

tiga hari telah lewat
kami mengunjungi keluarga dekat
di kota Samarinda yang tidak padat
dengan mobinya Salahuddin, sesudah shalat
dia adalah kepala sekolah perawat
waktu sore, kami tiba dengan selamat

kami kunjungi keluarga maiwa di sini
di antaranya ada Hartini Gani
di seorang guru negeri
aku juga bertemu dengan iparku sendiri
namanya adalah Jumiati
berjualan kelontong sehari-hari

hanya ada yang kurang enak
putranya Jumiati telah terjebak
masalah narkoba yang mendesak
sudah divonis penjara mendadak
empat tahun lebih, tak bisa ditolak
demikian sedih katanya, bernada serak

Tini menyambut kami dengan senang
terakhir di rumahnya, kami makan-makan kacang
dia menyiapkan kami tiket pulang
keluarga lain memberi kami kerupuk amplang
kami tinggalkan Samarinda waktu siang
tak lama kemudian, samarinda pun menghilang

kami tiba di Parepare dipagi awal
isteriku muncul mendekati kapal
dia membawa mobil rental
Kalimantan masih terbayang spesial
ke sana lagi, bila tak ada aral
hanya kotanya belum kuhafal .....
 



Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 10 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulawesi Selatan


Maafkan Aku Ibu

MAAFKAN AKU, IBU 

kabut masih menempel di dedaunan
tangkai bunga tertiup angin gemetaran
di kegelapan subuh pagi dari kejauhan
terdengar lolongan ajing kelelahan

ibuku sudah bangun menyiapkan
perlengkapanku pergi ke kota impian
menumpang mobil hampir rongsokan
menuntut ilmu demi masa depan

orang tuaku hidup pas-pasan
aku juga kuliah ngos-ngosan
terkadang pakaian kujual di pasaran
guna menutupi kebutuhan
kota tidak mengenal kasihan
siapa lengah akan disingkirkan

terpaksa kuambil jalan pintas
program sarjana tidak tuntas
diploma guru sudah puas
selalu kubawa dalam tas identitas

aku melamar kerja guru lepas
walau tidak banyak fasilitas
tidak memiliki koneksitas
tetap berjalan aktifitas

maafkan aku, Ibu!
belum berbakti kepadamu
perjalanan masih berliku
tak mampu membalas jasamu
penghidupan penuh kelabu
hanya seorang guru bantu
penghasilan tidak menentu

maafkan aku, bunda!
aku sudah berumah tangga
sudah memiliki putra-putra
kapan lagi aku bisa
membahagiakan bunda
penghasilanku biasa-biasa saja
hanya kumampu berkata
"terima kasih banyak" bunda

maafkan aku, ibuku tercinta
kau telah pergi selama-lamanya
aku belum berbuat apa-apa
sebagai baktiku kepada orang tua
ibu tak pernah meminta
bayangan puas nampak di wajahnya
hanya doaku kepada Tuhan Esa
semoga ibu sejahtera di alam sana .....
 



Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 12 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulawesi Selatan


Kemalangan Berganda

KEMALANGAN BERGANDA


lelaki tua di pondok bambu
di bawah pohon jambu
tiada tempatnya bercumbu
bagai lampu kehabisan sumbu
tidur tanpa kelambu
kecuali tikar kulit lembu

hidupnya serba miskin
bekerja sebagai pengrajin
menderita penyakit ambein
perasaan panas dingin
jatuh pingsan kemarin
tidak tertutup kain

terkadang hatinya kesal
hingga kehilangan akal
seperti dia menyesal
tiada uang bekal
isteri telah meninggal
pulang ke negeri kekal

penghidupan tidak menentu
tiada isteri membantu
tiada anak dan menantu
fikiran jadi buntu
berbaring dekat pintu
bagai bayangan hantu
tidak pernah shalat lima waktu

penyakit sudah kronis
tapi dia telah apatis
keadaannya sekarang kritis
perlu perawatan medis
juga dokter spesialis
tapi semuanya pessimis

hidup sudah melarat
keadaannya sudah sekarat
penyakit telah berkarat
hidupnya semakin gawat
tidak mampu mengucapkan syahadat
tanpa bekal pulang ke akhirat

mautpun datang juga
menjemputnya dengan paksa
tinggallah jasad belaka
terbujur tanpa pelipur lara
orang sudah lupa
nama silelaki tua
kemudian sepi selama-lamanya


Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 08 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulswesi Selatan

Hp Dari Anak

HP DARI ANAK 


hujan gerimis masih turun
musim hujan di akhir tahun
cuaca masih tertutup embun
suasana sudah lengang di dusun
muncullah seorang wanita berpakaian katun
sembari menyugah buah mentimun

di tangannya sebuah HP merek SAMSUNG
pemberian dari si anak kandung
penghidupan anaknya cukup mumpung
hanya ibunya sudah linglung
pekerjaannya menjual kue di warung
Hpnya terkadang tidak tersambung

dia jarang menggunakan HP tersebut
karena pendengaran sudah ciut
hanya sms terkadang berlarut
omongan singkat, tidak berbuntut
sehingga pulsanya tidak susut
masa aktif tidak berlanjut

dia mulai berfikit rasional
dia ingin hidup normal
walau agak emosional
di samping rasa kesal
tidak dapat ber HP maksimal
karena hanya minimal

dia tidak ber HP lagi
diberikan keluarga sendiri
biarlah tidak berHP di sini
kurang juga komunikasi
orang sepertiku kini
telah lama tuli
katanya dalam hati

suatu ketika, si ibu jatuh sakit
dia tak mampu bangkit
tubuhnya perlu dipijit
tinggal jauh di desa bukit
tidak ada HP, terasa sulit
anaknya tidak mengirimkan duit
penghidupannya mulai sempit ...




Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 06 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulawesi Selatan

Minggu, 15 Desember 2013

Sudah Tua

SUDAH TUA

mentari bersinar dengan garang
udara di sekitar bagaikan terpanggang
baru saja usai orang sembahyang
hari tuaku datang lagi membayang

umurku di ambang pintu
pendengaranku pakai alat bantu
kesehatan tidak menentu
fikiran sudah buntu
laksana dikepung hantu

rambut sudah ubanan
pakai kacamata ukuran
ngilu semua persendian
nyeri terasa di badan
walau dalam pengobatan

apa mau dikata lagi
apa hendak dipungkiri
semuanya pinjaman dari Ilahi
hanya ada hak pakai
tak ada hak memiliki

aku mengeluh pada diri
tidak mampu mandiri
siapakah akan kusesali
tubuh hampir membangkai
tapi takut juga mati

matahariku hampir tenggelam
rawan ditimpa nasib kelam
caranya maut mengirim salam
penyakit tua pasti mendekam
membuat fikiran tambah suram

tubuh sudah bau tanah
perkakasnya banyak kalah
badan sudah lemah
hidup serba lelah
apa ada yang salah?

bila maut itu datang
tak ada kata penghalang
sejauh mata memandang
semuanya musnah, hilang
tak ada lagi dikenang

inilah siklus kehidupan
ada hari ini, hari kemudian
esmua kebaikan, keburukan
pasti mendapat balasan
barulah muncul penyesalan




Karya : Umar Pallanyu
Maroangin 06 Desember 2012
Kab. Enrekang Sulawesi Selatan





Puisi yang lainnya :